Kamis, 26 Mei 2011

TUA OKE,PIKUN NO WAY!

Demensia Alzheimer Si Pembunuh OtakE-mail
"Sering lupa apa yang baru saja dikatakan? pusing mencari sesuatu yang sebenarnya sudah kita bawa? kalau hal ini sering terjadi pada diri anda, waspadalah bisa jadi anda terkena gejala demensia"
Proses penuaan identik dengan penyakit dan kepikunan. Banyak orang akan segera mencari bantuan medis jika terserang salah satu dari penyakit degeneratif seperti penyakit kardiovaskular. Namun, tidak demikian halnya jika seseorang mengalami kepikunan.
demensia adalah penyakit
Sebagian besar orang mengira bahwa demensia adalah penyakit yang hanya diderita oleh para Lansia, kenyataannya demensia dapat diderita oleh siapa saja dari semua tingkat usia dan jenis kelamin (Harvey, R. J. et al. 2003). 
Salah satu tipe demensia adalah demensia alzheimer, yaitu proses penurunan daya ingat yang sangat parah sehingga mengganggu kehidupan sosial penderitanya. Di Amerika Serikat, demensia alzheimer merupakan penyakit keempat penyebab kematian setelah penyakit jantung, kanker, dan stroke.
Penyakit alzheimer merupakan penyakit demensia tersering dan menurunkan hingga 50 persen tingkat harapan hidup penderitanya. Karena itu, sangat disayangkan jika masyarakat menganggap remeh penyakit ini.
"Meski tidak menyebabkan kematian secara langsung seperti kanker, pasien yang mengalami penurunan daya ingat bisa meninggal akibat berbagai hal, misalnya kecelakaan," ( Prof. Dr. Sidiartc Kusumoputro)
Secara teoretis, 5 persen dari populasi golongan lanjut usia berisiko terkena demensia. Demensia alzheimer ini biasanya menyerang golongan SENIOR di atas 65 tahun. Penyebabnya faktor genetik, virus, radikal bebas, dan pencemaran.
Akhir-akhir ini ditemukan gejala keterkaitan erat antara kepikunan dengan penyakit hipertensi; diabetes, hiperkolesterolemia, jantung, dan stroke. Karena itu, penyandang penyakit ini meskipun masih berusia pra SENIOR perlu mewaspadai kemungkinan munculnya gejala demensia alzheimer.
bagian-bagian otak manusia
Yang disayangkan, biasanya orang yang terkena demensia alzheimer tidak menyadari dirinya adalah penderita. Kalaupun mengetahui, tidak segera mencari bantuan medis.
"Pikun adalah penyakit, seperti alzheimer. SENIOR  normal tidak akan pikun, hanya mengalami penurunan daya ingat karena proses penuaan," 
Gejala Demensia

Hal yang menarik dari gejala penderita demensia adalah adannya perubahan kepribadian dan tingkah laku sehingga mempengaruhi aktivitas sehari-hari. Penderita yang dimaksudkan dalam tulisan ini adalah SENIOR dengan usia enam puluh lima tahun keatas. SENIOR penderita demensia tidak memperlihatkan gejala yang menonjol pada tahap awal, mereka sebagaimana SENIOR pada umumnya mengalami proses penuaan dan degeneratif. Kejanggalan awal dirasakan oleh penderita itu sendiri, mereka sulit mengingat nama cucu mereka atau lupa meletakkan suatu barang.
Mereka sering kali menutup-nutupi hal tersebut dan meyakinkan diri sendiri bahwa itu adalah hal yang biasa pada usia mereka. Kejanggalan berikutnya mulai dirasakan oleh orang-orang terdekat yang tinggal bersama, mereka merasa khawatir terhadap penurunan daya ingat yang semakin menjadi, namun sekali lagi keluarga merasa bahwa mungkin  kelelahan dan perlu lebih banyak istirahat. Mereka belum mencurigai adanya sebuah masalah besar di balik penurunan daya ingat yang dialami oleh orang tua mereka.
beraktivitas mengurangi gejala demensia
Gejala demensia berikutnya yang muncul biasanya berupa depresi pada SENIOR, mereka menjaga jarak dengan lingkungan dan lebih sensitif. Kondisi seperti ini dapat saja diikuti oleh munculnya penyakit lain dan biasanya akan memperparah kondisi SENIOR. Pada saat ini mungkin saja SENIOR menjadi sangat ketakutan bahkan sampai berhalusinasi. Di sinilah keluarga membawa SENIOR penderita demensia ke rumah sakit di mana demensia bukanlah menjadi hal utama fokus pemeriksaan.
Seringkali demensia luput dari pemeriksaan dan tidak terkaji oleh tim kesehatan. Tidak semua tenaga kesehatan memiliki kemampuan untuk dapat mengkaji dan mengenali gejala demensia. Mengkaji dan mendiagnosa demensia bukanlah hal yang mudah dan cepat, perlu waktu yang panjang sebelum memastikan seseorang positif menderita demensia. Setidaknya ada lima jenis pemeriksaan penting yang harus dilakukan, mulai dari pengkajian latar belakang individu, pemeriksaan fisik, pengkajian syaraf, pengkajian status mental dan sebagai penunjang perlu dilakukan juga tes laboratorium.
Pada tahap lanjut demensia memunculkan perubahan tingkah laku yang semakin mengkhawatirkan, sehingga perlu sekali bagi keluarga memahami dengan baik perubahan tingkah laku yang dialami oleh Lansia penderita demensia. Pemahaman perubahan tingkah laku pada demensia dapat memunculkan sikap empati yang sangat dibutuhkan oleh para anggota keluarga yang harus dengan sabar merawat mereka. Perubahan tingkah laku (Behavioral symptom) yang dapat terjadi pada Lansia penderita demensia di antaranya adalah delusi, halusinasi, depresi, kerusakan fungsi tubuh, cemas, disorientasi spasial, ketidakmampuan melakukan tindakan yang berarti, tidak dapat melakukan aktivitas sehari-hari secara mandiri, melawan, marah, agitasi, apatis, dan kabur dari tempat tinggal (Volicer, L., Hurley, A.C., Mahoney, E. 1998).
perasaan bahagia menghilangkan semua penyakit

Demensia alzheimer sebenarnya dapat dicegah dengan menjaga pikiran tetap tenang, melakukan gerak badan teratur, dan menjalani gaya hidup sehat. Menjadi tua tidak harus dibarengi kepikunan jika kita memiliki pengetahuan tentang penyakit ini.
Tidak perlu menunggu hingga usia SENIOR  untuk mencegah penyakit agar nantinya kita dapat menjadi SENIOR yang mandiri dan tetap produktif (sept - 0511)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar